Minggu, 14 Juli 2019

Hidup yang Sehidup-Hidupnya



Oleh: Ahmad Pujianto

Pada suatu waktu yang biasa, badan ini ada. Terdampar di tepian pantai yang berhias pepasiran putih menyilau. Sebentar waktu, badan ini digoyahkan oleh deburan ombak. Mataku perih menatap bayang-bayang keberadaan. Akal budiku biru bersih sepertizenit langit yang melingkupi cakrawala hingga horison sana.

Aku didatangkan ke daratan hidup ini, berbekal satu yang kutahu, bahwa aku tidak tahu apa-apa. Entah dari mana asalku, untuk apakah semua ini, dan mau dibawa ke manakah pada akhirnya...? Aku tak pernah merasa ditawari, tahu-tahu aku tercipta dengan embel-embel nama: Ahmad Pujianto. Dalam darahku bermuara ruh kemagelangan, itulah asalku, dan mungkin juga itulah pusaraku kelak. Kini aku sudah muda, akan tua, dan mati. Seakan identitas tersebut melekat erat pada seonggok badan ini tak mau pergi.

Dan seonggok badan, masih terdampar di antara perairan dan daratan. Aku terombang ambing dalam gelombang hidup yang tak tentu. Kurasakan benar bahwa hidup ini memang absurd. Segalanya hampa. Pun apa-apa yang ditangkap indra, tidak lain hanyalah kebohongan semata. Menjadikanku seorang nihilis.

Aku ingin punya kemampuan terbang, tapi aku tak punya sayap. Aku ingin berjalan di atas genangan air, tapi tenggelam. Aku ingin mengeluarkan semacam jurus, ah semakin absurd saja! Dan ketika aku ingin menciptakan sesuatu, hanya bisa dilakukan di dunia pembayanganku. Bahkan ketika aku mendamba kehidupan yang kekal, tapi nyatanya kelak akan tua dan mati. Setiap apa-apa yang kujalani sia-sia saja. Hidup ini buang-buang waktu saja.Dasar aku fana, dari tidak ada, menjadi ada, kembali menjadi tidak ada...

#          #          #

Kini aku sudah lelah. Terdampar dan terkapar di pantai tak bertuan ini. Aku merasa tak sempurna. Eksistensi dan gerakku benar-benar terbatas. Terbersit angan dalam benakku,aku menyerah saja pada keadaan. Namun sebelum itu, dalam hidup yang hanya sekali ini, bolehkah aku sedikit saja lebih tahu tentang seluk-beluk dan rahasia kehidupan. Aku ingin mengerti sebab-musabab, setidaknya apa tujuan hingga aku ‘ada’.

Sekali lagi, kucoba memaknai hidup ini. Mencari dan terus mencari, bertanya dalam pikir dan hati. Pasti ada yang menggerakkan semua ini. Bahkan, harus ada yang memulai! Lantas siapa yang memulai ‘aku’, sedangkan aku tidak mampu menciptakan diriku sendiri? Siapa yang menggerakkanku, sehingga aku sampai didamparkan di pantai hidup ini? Setiap keberadaan pasti terkandung maksud-Nya, yaitu untuk apa setiap sesuatu itu diciptakan. Lantas pertanyaannya, untuk apa aku dihidupkan? Siapa yang menghidupkan?

Aduhai Kamulah yang Wujud, tidak terbatas di tengah-tengah hal yang serba terbatas, Hal yang Paling Sempurna yang diidam-idamkan para pencari-Mu, sumber dari segala sumber hakikat hidup ini... Sebelumnya kusampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya, sudah menjadikanku ‘ada’. Sehingga aku bisa merasakan nikmat hidup, kesulitan, deburan ombak ini, sengatan matahari, dan terutama kesadaran atas diriku sendiri. Aku dibekali akal, pikir, dan hati sebagai alat untuk mengerti. Sehingga aku bisa menemukanMu. Terimakasih... karena Kamu ada, maka kuyakin harapan itu juga selalu ada!

Kucoba untuk bangkit menyambutMu. Limpahan syukurlah yang  menjadi sajak-sajak cintaku, cinta yang tulus tak perlu balas. Jelas aku didamparkan di pantai ini untuk menginjak daratan. Akupun mulai mewujudkan imajinasiku menjadi lebih maujud. Sehingga, dari pepasiran putih yang menyilau itu, aku bisa menciptakan patung burung, hewan-hewan, rumah-rumahan. Hingga terlintas di pikirku untuk membuat serupaanku, bahkan aku mulai mengarang-ngarang tentangMu. Sehingga aku tidak lagi kesepian. Tanpa kusadari, kini aku menjadi begitu sibuk denganMu. Tidak ada yang kupikirkan selain Kamu. Aku raih Tangan itu, kuajakNya berlari-lari, bercanda, dan tertawa meski yang terdengar tidak lain hanya suaraku. Akupun mulai mengeksplorasi cintaku dengan rebahan, atau tengkurap, memeluk, sambil menciumMu hingga keluar cairanku.

Aku sudah sampai. Kini aku ada dalam ketidakberbatasan, kesempurnaan. Aku sampai di puncak-puncak ilmu sehingga aku tak perlu lagi belajar, karena: Akulah Hakikat itu! Aku menjadi hampa... Menjadi semesta alam. Kemudian aku lupa... Hilang... Dan kembali nihil....



Oh, ombak... datanglah padaku! Pesan apa yang Dia kirimkan untukku? Sebenarnya, aku tahu dari dulu Dia bersembunyi di balikmu. Dia tak henti-hentinya menyapa dan menggodaku... Ke sinilah, gerayangi seluk beluk tubuhku... Aku ingin menyatu denganmu, bahkan aku rela jika harus hanyut di kedalamanmu...

#          #          #

“Oh, tidak!!! Sadar-sadarlah, Puji! Puji... Puji... Kamu masih Puji, kan ?!”
Bah!Ombak itu hampir berhasil mengelabuhiku. Aku sudah hanyut terbawa arus hingga lepas pantai. Kalau aku tidak segera bangun dan berenang kembali, mungkin kini aku sudah mati. Berlaku juga dalam  hidupku ini, masalah hidup adalah jelmaan dari ombak yang selalu menggoda dan mengelabuhiku agar aku lupa terhadap Dia yang Esensi. Justru seharusnya, ombak hidup yang tak ada hentinya itu, menjadikanku lebih kuat! Aku menjadi semakin yakin bahwa Dia akan datang!

Dan seperti mendapat bisikan, aku akan memulai hidup ini dengan lebih segar. Aku memang belum tahu apa-apa. Tapi, satu hal yang kutahu, bahwa aku akan menjalani hidup ini dengan sehidup-hidupnya! Menerima dan memanfaat anugrah hidup ini dengan sebaik-baiknya. Berekspresi dan berkreasi meneladani keindahanNya. Dan bekerja untuk membangun, mendayagunakan benda sebagaimana tujuannya yang semestinya. Dengan perasaan syukur dan ikhlas, akan kukerjakan semua itu sehingga Dia menjadi tambah senang. Akupun dalam perasaan senang tak terhingga. Aduhai, Cinta...!

 Dan akhirnya, akan segera kudirikan menara-menara di sepanjang pantai ini. Untuk melihat-lihat, mencaridan menemukan Dia, Sang Pengirim Ombak. Akan kurindukan ketika Dia menjemputku dengan kapalNya yang megah, tak terkira tinggi dan besarnya. Untuk mengajakku bersamaNya dalam kehidupan yang kekal. Maka saat itulah, permainan ini berakhir...


(Pantai Kukup, 25 Desember 2013)